GELIAT NYATA “NU” ROKAN HULU

Pertumbuhan Organisasi Masyarak (ORMAS) di Indonesia tampaknya memiliki trend tersendiri. Simbolis-simbolis keagamaan, politik, dan sosial menjadi tendensi munculnya berbagai organisasi masyarakat dari masing-masing golongan. Salah satu organisasi keagamaan yang sedari awal tetap eksis dan terus berkembang dalam lingkup masyarakat majmuk adalah organisasi Nahdatul Ulama’ (NU). NU sedari awal merupakan ormas islam yang memiliki cita-cita mewujudkan Indonesia yang berkebhinekaan. Disamping, tentu NU memiliki cita-cita NKRI adalah harga mati.

Melihat perkembangan pesat ormas islam satu ini, penulis ingin memberikan asumsi bahwa NU akan tetap mampu berkiprah dalam ranah wacana keindonesiaan yang cukup luas. Persoalan perbedaan etnis, budaya, suku, bahasa, dan adat istiadat akan mampu diterjemahkan dengan baik dalam kondisi yang berbeda. Melihat kondisi politik yang terus memanas dalam perebutan jabata kepala daerah, namun ormas islam ini mampu mengsterilkan situasi untuk tetap menjaga kesetabilitasan Negara Indonesia.

Persoalan kiprah NU tentu tidak lagi diragukan. Perjalanan panjang sejarah NU mengajarkan pada pengalaman kedewasaan tentang menghdapi persoalan bangsa ini. Selain mampu memberikan kesetabilitasan negeri ini, NU menjadi terdepan dalam melakukan perubahan menuju kearah yang lebih baik. Rokan hulu adalah salah satu ikon daerah dengan sebutan “negeri seribu suluk”. Selain memiliki khas adat istiadat yang begitu kompleks, namun juga menyatu dalam basis NU yang begitu dinamis.

Kesatun NU dalam lingkup kearifan lokal (local wisdom) tidak akan menjadi konflik. Justru NU mampu menyatukan dalam lingkup perbedaan selain menghargai dari masing-masing perbedaan itu. Melihat yang demikian itu, dalam mengangkat tema “Harlah Muslimat Nu Ke-71 yang diadakan di Kabupaten Rokan Hulu Pasir Pengaraian, tampaknya tema ISLAM NUSANTARA menjadi tetap relevan untuk selalu dikaji.

Kabupaten Rokan Hulu, menjadi salah satu kabupaten yang memiliki beragam budaya, dan adat istiadat yang beragam. Namun, hadirnya NU ditengah masyarakat Kabupaten Rokan Hulu tidaklah menjadi penghalang lahirnya keberagamaan budaya. Label Rokan Hulu sebagai negeri seribu suluk menjadi perekat dan penguat hadirnya NU di tengah masyarakat yang begitu majemuk. Untuk itu, dalam tema harlah muslimat NU kali ini, masyarakat Nahdatul Ulama’ khususnya Kabupaten Rokan hulu ingin menegaskan untuk menyatukan keberbedaan yang ada. Tentu, dalam menyatukan keberbedaan tetap melihat Islam sebagai agama yang Rahmatan lil ‘Alamiin.

Akhirnya, dengan bertambahnya usia muslimat NU yang ke-71, besar harapan dari penulis juga dibarengi dengan semakin jayanya kiprah Nahdatul Ulama’ di Kabupaten Rokan Hulu. Khususnya dalam mengemban dan menjaga keutuhan NKRI nusantara pada umumnya.

* (Bashori) Penulis adalah salah satu dosen STAI Tuanku Tambusai Pasir Pengaraian yang saat ini sedang mengambil program doctoral (S3) di IAIN Jambi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*